JOGANEWS.com – Ada yang menggelitik dari demo mahasiswa dan sejunlah organisasi d iGedung DPR pada Senin (25/08/2025,) yakni seputar narasi negaif dari anggota DPR Partai Naadem Ahmad Sahroni.
Hal ini dikatakan Direktur Political and Public Policy Studoes (P3S) Jerry Massie.
“Saya kira Gerindra cepat menangkap tuntutan para pendemo terkait tunjangan Rp 50 juta, sepertii pernyataan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco juga selaku Ketua Hatian DPP Gerindra,” kata pakar politik ini.
Pernyataan Sufmi Dasco soal tunjangan hanya berlaku sampai Oktober, mencermikan keberpihakan pada rakyat terutama kaum marjinal.
“Saya pikir Prabowo pun demikian yang peka dengan kondisi lapangan. Apalagi saat ini rakyat lagi dalam keterpurukan akibat carut marut kondisi ekonomi kita,” ujar dia.
Berbeda dengan narasi dari Ahmad Sahroni soal yang mengusulkan DPR bubar itu tolol sedunia.
“Ini narasi sampah dan irasional dari seorang anggota DPR. Harusnya lebih cerdas dan bijak lagi dalam menyampaikan pesan. Ahmad Sahroni harus belajar dan membaca psikologi publik. Rakyat lagi terluka jangan tambah luka. Itulah istilah lidah tak bertulang. Dan dengan lidah dapat membakar hutan belantara sekalipun,” tutur dia.
Pada intinya, Sahroni harua belajar banyak pada sosok Sufmi Dasco yang paham akan kondisi di lapangan, bahkan menunjjukan ras empati dan simpatinya pada rakyat.
Belum lagi kata Jerry, kekecewaan publik pada Uya Kuya dan Eko Patrio yang membuat geram publik. Memangnya DPR klub malam? Kalau mau joget dan menari sepuasnya tak perlu dipublish atau off the record saja.
Jadi belajar ke bahasa santun Sufmi Dasco, Ketua DPR Puan Maharani yang membuka diri dan minta masukan publik serta Saan Mustopa yang membuka ruang dialog.
[











