Hikmahanto Juwana Beberkan Penyebab Kapal Pertamina masih Tertahan di Selat Hormuz

Senin, 30 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGANEWS.com – Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan Indonesia berada pada posisi tak mudah terkait kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz, Iran.  “Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis,” kata Hikmahanto saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/3/026). Di satu sisi, Indonesia ingin kapal tankernya dapat melintas di Selat Hormuz demi kepentingan nasional.

Namun di sisi lain, langkah tersebut berisiko membuat Indonesia dianggap berpihak dan dipersepsikan sebagai lawan oleh Amerika Serikat. “(Tapi) kan sudah diberi lampu hijau (oleh Iran), tinggal masalah teknis saja kok,” tegas dia.

Dalam konteks ini, ia menjelaskan bahwa Iran secara efektif mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kapal tanker dari sejumlah negara masih diizinkan melintas tanpa gangguan. Baca juga: Indonesia Harus Hadir Sebagai Honest Broker, Anggota DPR: Gandeng PBB dan OKI Iran mengelompokkan negara menjadi “hostile states” (negara musuh) dan “non-hostile states” (bukan musuh) untuk menentukan kapal mana yang boleh melintas. Sejumlah negara yang diizinkan melintas antara lain Rusia, China, Pakistan, India, Thailand, Malaysia, dan belakangan Indonesia.

Sementara Turki mendapat akses terbatas. “Bukannya tidak mungkin jumlah negara yang hendak bernegosiasi dengan Iran akan bertambah,” jelas dia. Baca juga: Dua Kapal Pertamina Tertahan, RI-Iran Bahas Teknis Lintasi Selat Hormuz Adapun negara yang dikategorikan sebagai musuh oleh Iran dan tidak mendapat akses melintas adalah Amerika Serikat, Israel, dan Inggris.

Kebijakan Iran ini berpotensi memicu ketegangan, terutama dengan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump. Pasalnya, Iran dinilai dapat menentukan sendiri siapa yang dianggap teman atau musuh. Padahal, Trump sebelumnya berharap negara-negara sekutunya di NATO, serta Jepang dan Korea Selatan, ikut membantu membuka akses Selat Hormuz.

Baca Juga:  Lagi, AS Kudeta China Diperingkat Pertama Perolehan Medali Olimpiade Paris 2024

Namun, upaya tersebut mendapat respons yang kurang positif. Untuk merespons langkah Iran, bukan tidak mungkin AS juga akan mengelompokkan negara-negara sebagai kawan atau lawan dalam konflik ini. Iran Beri Tanggapan Positif “Repotnya bila negara yang dianggap teman oleh Iran akan dianggap musuh oleh AS,” kata dia. Oleh karena itu, posisi Indonesia dalam kondisi itu sangat dilematis.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Jerry Massie Sebut Kaum Buruh selalu Dihati Prabowo
Warga AS Didesak Segera Tinggalkan Iran
Dana Asing bagi Sektor Riset, Jurnalistik dan Media jadi Bom Waktu
Menhan Syafrie akan Teken MoU Terkait Pesawat Militer AS Lewati Wilayah Udara RI
Biaya Perang yang Digelontorkan AS Cukup Fantastis
Bosnia Buyarkan Impian Italia ke Piala Dunia
Donald Trump Rilis Aplikasi Mobile White House
American Political Expert : Iran Winning the War Against Israel and the United States Is a Hallucination

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 09:21 WIB

Jerry Massie Sebut Kaum Buruh selalu Dihati Prabowo

Kamis, 23 April 2026 - 08:00 WIB

Warga AS Didesak Segera Tinggalkan Iran

Selasa, 14 April 2026 - 07:40 WIB

Menhan Syafrie akan Teken MoU Terkait Pesawat Militer AS Lewati Wilayah Udara RI

Selasa, 14 April 2026 - 07:33 WIB

Biaya Perang yang Digelontorkan AS Cukup Fantastis

Rabu, 1 April 2026 - 08:12 WIB

Bosnia Buyarkan Impian Italia ke Piala Dunia

Berita Terbaru

Bisnis

Jerry Massie Sebut Kaum Buruh selalu Dihati Prabowo

Senin, 4 Mei 2026 - 09:21 WIB

Eksekutif

Realistis Bahlil Direshuffle

Senin, 27 Apr 2026 - 07:24 WIB

Law and Criminal

Gegara Buku “Gibran End Game”, Rismon Sianipar Dipolisikan

Senin, 27 Apr 2026 - 07:20 WIB

Manca Negara

Warga AS Didesak Segera Tinggalkan Iran

Kamis, 23 Apr 2026 - 08:00 WIB